![]() |
| Masalah-Masalah Pada Ibu Saat Menyusui dan Solusinya |
Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya beberapa masalah, baik masalah pada ibu maupun pada bayi. Pada sebagian ibu yang tidak paham masalah ini, kegagalan menyusui sering dianggap problem pada anak saja. Selain itu ibu sering benar mengeluhkan bayinya sering menangis, atau “menolak” menyusu, yang sering diartikan bahwa ASInya tidak cukup, atau ASInya tidak enak, tidak baik atau apapun pendapatnya, sehingga sering menyebabkan diambilnya keputusan untuk menghentikan menyusui.
Untuk mengantisipasi pengambilan keputusan yang salah, sebaiknya ibu memahami masalah-masalah yang terjadi pada saat menyusui baik yang terjadi pada bayi (Baca : Masalah-Masalah Pada Bayi Saat Menyusui dan Solusinya) ataupun pada ibu. Berikut adalah penjelasan lengkap masalah-masalah yang terjadi pada ibu saat menyusui :
Masalah Menyusui pada Masa Pasca Persalinan Dini (1 – 7 hari setelah persalinan)
1. Puting susu lecet
Pada keadaan ini seringkali seorang ibu menghentikan menyusui karena putingnya sakit. Yang perlu dilakukan adalah :
- Cek bagaimana perlekatan ibu-bayi
- Apakah terdapat Infeksi Candida (mulut bayi perlu dilihat). Kulit merah, berkilat, kadang gatal, terasa sakit yang menetap, dan kulit kering bersisik (flaky) Pada keadaan puting susu lecet, yang kadang kala retak-retak atau luka, maka dapat dilakukan dengan cara-cara seperti ini :
- Ibu dapat terus memberikan ASInya pada keadaan luka tidak begitu sakit.
- Olesi puting susu dengan ASI akhir (hind milk), jangan sekali-sekali memberikan obat lain, seperti krim, salep, dan lain-lain.
- Puting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2x24 jam.
- Selama puting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan dengan tangan, dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri.
- Cuci payudara sekali saja sehari dan tidak dibenarkan untuk menggunakan sabun.
2. Payudara bengkak
Dibedakan antara payudara penuh karena berisi ASI dengan payudara bengkak. Pada payudara penuh terjadi kondisi rasa berat pada payudara, panas dan keras. Bila diperiksa, ASI keluar dan tidak ada demam. Pada payudara bengkak ditemukan kondisi sakit, puting kencang, kulit mengkilat walau tidak merah, dan bila diperiksa, ASI tidak keluar, serta bisa timbul demam setelah 24 jam. Hal ini terjadi karena produksi ASI meningkat, terlambat menyusui dini, perlekatan kurang baik, kurang sering ASI dikeluarkan dan mungkin juga ada pembatasan waktu menyusui. Untuk mencegah maka diperlukan (1) menyusui dini, (2) perlekatan yang baik, (3) menyusui “on demand” atau bayi harus lebih sering disusui. Apabila terlalu tegang atau bayi tidak dapat menyusu sebaiknya ASI dikeluarkan dahulu, agar ketegangan menurun. Untuk merangsang reflek Oxytocin maka dilakukan :
- Kompres hangat untuk mengurangi rasa sakit.
- Ibu harus rileks
- Pijat leher dan punggung belakang (sejajar daerah payudara)
- Pijat ringan pada payudara yang bengkak (pijat pelan-pelan ke arah tengah)
- Stimulasi payudara dan puting
Selanjutnya kompres dingin pasca menyusui, untuk mengurangi pembengkakan. Pakailah BH yang sesuai. Bila terlalu sakit dapat diberikan obat anti-nyeri (analgetik) sesuai petunjuk dokter.
3. Mastitis atau abses payudara
Mastitis adalah peradangan pada payudara. Payudara menjadi merah, bengkak kadangkala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu tubuh meningkat. Di dalam terasa ada masa padat (lump) dan diluarnya kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Keadaan ini disebabkan kurangnya ASI diisap/dikeluarkan atau pengisapan yang tak efektif. Dapat juga karena kebiasaan menekan payudara dengan jari atau karena tekanan baju atau BH. Pengeluaran ASI yang kurang baik pada payudara yang besar terutama pada bagian bawah payudara yang menggantung.
Ada dua jenis Mastitis ; yaitu yang hanya karena milk stasis adalah Non Infective Mastitis dan yang telah terinfeksi bakteri yang disebut Infective Mastitis. Lecet pada puting dan trauma pada kulit juga dapat mengundang infeksi bakteri. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan:
- Kompres hangat dan pemijatan
- Rangsang Oxytocin : dimulai pada payudara yang tidak sakit, yaitu stimulasi puting, pijat leher-punggung, dan lain-lain.
- Pemberian antibiotik sesuai petunjuk dokter.
- Bila perlu bisa diberikan istirahat total dan obat untuk penghilang rasa nyeri.
- Kalau sudah terjadi abses sebaiknya payudara yang sakit tidak boleh disusukan, karena mungkin memerlukan tindakan bedah.
Masalah Menyusui pada Masa Pasca Persalinan Lanjut (1 – 6 minggu setelah persalinan)
1. Sindrom ASI kurang
Sering kenyataannya ASI tidak benar-benar kurang. Tanda-tanda yang “mungkin saja” ASI benar kurang antara lain:
- Bayi tidak puas setiap setelah menyusui, sering kali menyusu, menyusu dengan waktu yang sangat lama. Tapi juga terkadang bayi lebih cepat menyusu. Sering disangka produksinya berkurang padahal dikarenakan bayi telah pandai menyusu.
- Bayi sering menangis atau bayi menolak menyusu.
- Tinja bayi keras, kering atau berwarna hijau.
- Payudara tidak membesar selama kehamilan (keadaan yang jarang), atau ASI tidak “datang” pasca lahir.
- Walaupun ada tanda-tanda tersebut perlu diperiksa apakah tanda-tanda tersebut dapat dipercaya.
Tanda bahwa ASI benar-benar kurang, antara lain :
- BB (berat badan) bayi meningkat kurang dari rata-rata 500 gram per bulan.
- BB lahir dalam waktu 2 minggu belum kembali.
- Ngompol rata-rata kurang dari 6 kali dalam 24 jam dengan cairan urin pekat, bau menyengat dan warna kuning.
Cara mengatasinya disesuaikan dengan penyebab, terutama dicari pada ke 4 kelompok faktor penyebab :
- Faktor tehnik menyusui : keadaan ini yang paling sering dijumpai, antara lain masalah frekuensi, perlekatan, penggunaan dot/botol dan lain-lain. (Baca : Cara Menyusui Bayi Yang Benar).
- Faktor psikologis : seperti tidak adanya keinginan ibu untuk menyusui.
- Faktor fisik ibu : antara lain pengaruh dari KB, kontrasepsi, merokok, kurang gizi, pengaruh obat, dan lainnya.
- Faktor kondisi bayi : misalnya bayi sakit, adanya abnormalitas dan lain-lain.
Ibu dan bayi dapat saling membantu agar produksi ASI meningkat dan bayi terus memberikan isapan efektifnya. Pada keadaan-keadaan tertentu dimana produksi ASI memang tidak memadai maka perlu upaya yang lebih, misalnya pada relaktasi, maka bila perlu dapat dilakukan pemberian ASI dengan suplementer yaitu dengan pipa nasogastrik atau pipa halus lainnya yang ditempelkan pada puting untuk diisap bayi dan ujung lainnya dihubungkan dengan ASI atau formula.
2. Mastitis atau abses payudara
Mastitis adalah peradangan pada payudara. Payudara menjadi merah, bengkak kadangkala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu tubuh meningkat. Di dalam terasa ada masa padat (lump) dan diluarnya kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Keadaan ini disebabkan kurangnya ASI diisap/dikeluarkan atau pengisapan yang tak efektif. Dapat juga karena kebiasaan menekan payudara dengan jari atau karena tekanan baju atau BH. Pengeluaran ASI yang kurang baik pada payudara yang besar terutama pada bagian bawah payudara yang menggantung.
Ada dua jenis Mastitis ; yaitu yang hanya karena milk stasis adalah Non Infective Mastitis dan yang telah terinfeksi bakteri yang disebut Infective Mastitis. Lecet pada puting dan trauma pada kulit juga dapat mengundang infeksi bakteri. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan:
- Kompres hangat dan pemijatan
- Rangsang Oxytocin : dimulai pada payudara yang tidak sakit, yaitu stimulasi puting, pijat leher-punggung, dan lain-lain.
- Pemberian antibiotik sesuai petunjuk dokter.
- Bila perlu bisa diberikan istirahat total dan obat untuk penghilang rasa nyeri.
- Kalau sudah terjadi abses sebaiknya payudara yang sakit tidak boleh disusukan, karena mungkin memerlukan tindakan bedah.
3. Ibu yang bekerja
Seringkali alasan pekerjaan membuat seseorang ibu berhenti menyusui. Sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dianjurkan pada ibu menyusui yang bekerja :
- Susuilah bayi sebelum ibu bekerja.
- ASI dikeluarkan untuk persediaan di rumah sebelum berangkat kerja. (Baca : Cara Memeras ASI dengan Tangan yang Benar dan Cara Menyimpan ASI Perah yang Tepat).
- Pengosongan payudara di tempat kerja setiap 3-4 jam.
- Pada saat ibu di rumah, sesering mungkin bayi disusui, dan ganti jadwal menyusuinya sehingga banyak menyusui di malam hari
- Keterampilan mengeluarkan ASI dan merubah jadwal menyusui sebaiknya telah mulai dipraktekkan sejak satu bulan sebelum kembali bekerja
- Minum dan makan makanan yang bergizi dan cukup selama bekerja dan selama menyusui bayi.

Facebook
Twitter
Google+